SakuSultan Siap Mengguncang Pasar Fintech: Strategi “Nekat” Penantang Raksasa Dompet Digital Dari Sulawesi Tenggara
Anoapos.com | Kendari – Industri finansial teknologi (fintech) tanah air sedang bersiap menghadapi babak baru. Di tengah dominasi para raksasa dompet digital demi menggaet pengguna, sebuah platform asal Sulawesi Tenggara (Sultra) bernama SakuSultan justru bersiap mengikuti peta persaingan. Tidak tanggung-tanggung, platform ini mengusung pola bisnis yang mengubah pengguna biasa menjadi pemegang komisi nasional.
Pengembangan yang memakan waktu hingga empat tahun ini telah mengantongi izin kerja sama dengan perusahaan jasa keuangan pada periode 2024–2025. SakuSultan mengusung skema ambassador serta bagi hasil transaksi sebuah strategi yang dinilai sanggup membalikkan logika bisnis fintech konvensional.
Bukan Sekadar Tempat Membuang Uang
CEO SakuSultan, Ambo Tang, M.Pd.I, menegaskan bahwa nama “SakuSultan” diangkat dari misi fundamental untuk memberi nilai tambah nyata bagi finansial penggunanya.
“Dompet digital lain, hanya menempatkan masyarakat sebagai pengguna pasif: download, registrasi, top up, lalu pakai untuk konsumsi. SakuSultan berbeda. Kami memberi jalan agar pengguna memiliki saldo tanpa harus selalu melakukan top up, yaitu melalui Program Ambassador. Ini yang tidak dimiliki platform mana pun,” ujar Ambo Tang.
Dalam ekosistem ini, SakuSultan menyisipkan komisi transaksi per generasi. Artinya, setiap kali ada transaksi dalam jaringan yang dibangun, komisi mengalir secara real-time ke saldo pengguna, bahkan bagi mereka yang awalnya tidak mengambil paket ambassador.
Menembus dominasi brand-brand besar nasional jelas bukan perkara gampang. Namun, Direktur Pemasaran SakuSultan, Sam Nursam, S.E., menyebut bahwa menghadapi pemain besar dengan cara yang sama adalah langkah yang sia-sia.
“Junior melawan senior dengan cara yang sama itu konyol. Ikan teri tidak bisa bertarung frontal melawan ikan paus. Kuncinya ada pada inovasi nilai. Dompet digital secanggih apa pun tidak ada artinya kalau saldonya kosong. Kami fokus pada isi dompetnya bagaimana dompet itu bisa terisi sendiri lewat sistem kemitraan dan bagi hasil,” jelas Sam Nursam.
Guna mengejar target 20 juta pengguna aktif secara nasional, SakuSultan menyiapkan serangkaian strategi ekspresi pasar secara masif:
Strategi Endorsement & Micro-Influencer: Memobilisasi Selebgram, TikTokers, dan YouTubers berdaya jangkau tinggi di kota-kota kunci untuk mempercepat penetrasi aplikasi.
Roadmap Penetrasional 38 Provinsi: Memulai ekspansi dari Kendari, Makassar, dilanjutkan ke Palu, Manado, Jakarta, Bandung, Surabaya, Kalimantan, Medan, hingga mencakup seluruh Indonesia.
Ekosistem Offline & Integrasi UMKM: Mendorong adopsi pembayaran SakuSultan di merchant lokal, cafe, dan rumah makan, sekaligus masuk ke sektor pendidikan dan komunitas bisnis.
Periklanan Komersial Skala Besar: Menyiapkan kampanye iklan cetak dan digital di titik-titik protokol nasional via billboard, banner, dan pameran.
Organik Menuju Fase Komersial
Meski belum meluncurkan kampanye iklan komersial skala besar di media nasional maupun periklanan ruang luar, SakuSultan mengeklaim telah berhasil menggaet hampir 100.000 pengguna organik.
Dengan membagikan sebagian keuntungan platform (fee-based income) kembali ke tangan pengguna yang ikut membangun ekosistem, SakuSultan menawarkan peta jalan bisnis fintech baru: mengubah user dari sekadar konsumen menjadi bagian dari pemilik profit.
Pelopor Saku Sultan di Sulawesi Tenggara (Sultra), Nurrahman Sawali, menyampaikan bahwa Saku Sultan bersama sultan Promosindo menargetkan seluruh elemen transaksi di 17 kabupaten/kota se-Sultra untuk terlibat dan memanfaatkan platform digital Saku Sultan.
Pengembangan Saku Sultan diarahkan agar platform tersebut dapat menjadi bagian dari aktivitas transaksi masyarakat di berbagai daerah di Sulawesi Tenggara.
Ia menyebut, sepanjang 2026 pihaknya menargetkan mampu mereferensikan sekitar 70 persen pengguna perangkat Android di Sultra untuk mengunduh dan menggunakan Saku Sultan.
Target tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi digital, tetapi juga mengambil bagian dalam peluang bisnis yang ditawarkan melalui ekosistem Saku Sultan.
“Di era digitalisasi ini, semuanya berjalan begitu cepat dan terkadang tidak terasa. Mulai 2028 nanti, kami menargetkan seluruh pemilik Android di Sulawesi Tenggara sudah menggunakan Saku Sultan dalam bertransaksi,” ujar pemuda yang biasa disapa Arman.
Pencapaian target tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha, masyarakat, komunitas, dan seluruh elemen yang berkaitan dengan aktivitas transaksi digital di Sulawesi Tenggara.
Dengan semakin berkembangnya digitalisasi, ia berharap Saku Sultan dapat hadir sebagai salah satu pilihan platform pembayaran dan transaksi yang mampu memberikan manfaat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di daerah. (TIM)














